BAGAIMANA MEMBUAT PERJANJIAN YANG AMAN

Perjanjian ataupun kerjasama entah apapun bentuknya pasti dibutuhkan saat kita akan memulai suatu proyek. Tentunya perjanjian sesederhana apapun akan lebih baik daripada perjanjian secara verbal. Tapi ternyata perjanjian sederhanapun masih belum cukup apabila kondisi yang dihadapi atau masalah yang dihadapi cukup pelik.
Lalu perjanjian seperti apa sebenarnya yang dibutuhkan saat kita akan memulai proyek? Perjanjian seperti apa yang aman? Apakah perjanjian yang kita ajukan akan disetujui partner atau pemilik tanah atau bahkan akan ditolak mentah-mentah? Perjanjian yang kitga buat harus mencakup apa saja? Dll
Deretan kalimat diatas tentu adalah pertanyaan standar yang kita ajukan saat membuat perjan jian, tapi kadang saat kita ke notaris-pun, notaris bingung akan mengarahkan kemana isi perjanjian tersebut. Harap maklum, notaris sebagai praktisi hukum tentu saja hanya berfungsi sebagai sparing partner buat kita, tapi semua isi perjanjian tentu harus kita sendiri yang memikirkannya, notaris nantinya yang akan membuatkan ‘bahasa hukum’-nya. Kira-kira seperti ituproses perjanjian di notaris.Lalu bagaimana cara membuat isi perjanjian tersebut?
(1) BERSIKAPLAH PARANOID
Lha koq paranoid? Ya betul, takutlah pada kemungkinan terburuk yang akan timbul saat kita membuat perjanjian. Sikap ini akan menimbulkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Tentunya bukan paranoid sama partner atau pemilik lahan, tetapi pada kemungkinan yang muncul saat proyek berjalan. Ingat tidak selamanya matahari bersinar terang dan burung berkicau riang. Pikirkan semua kemungkinan terburuk yang mungkin timbul saat proyek berjalan, apakah proyek bisa disengketakan pihak lain, apakah pemilik tanah bisa membatalkan perjan jian dan menjualnya ke pihak lain, apakah pemilik tanah kalau meninggal bagaimana, apakah pemilik tanah bisa ingkar saat akan ajb dengan konsumen, apakah perijinan harus atas nama pemilik tanah, apakah partner kerja bisa membawa lari uang modal, apakah partner kerja bisa ingkar janji dan tidak jadi menanam modal, apakah…apakah…apakah…dll. Buat daftar ketakutan/paranoid ini
(2) CARI EXIT PONT
Setelah semua kemungkinan terburuk ada draft dan daftarnya, buat semua exit point dari kemungkinan terburuk tersebut. Kalau takut pemilik meninggal, perjanjian dibuat tidak akan berakhir meski salah satu pihak meninggal dan hak derta kewajiban jatuh ke ahli waris. Kalau takut partner kerja melarikan modal dibuat aturan pengeluaran modal harus tanda tangan berdua. Kalau takut pemilik tanah membatalkan perjanjian, dibuat klausul denda ke pemilik tanah apabila membatalkan perjanjian. Dll. Pastikan semua ketakutan kita tadi ada exit point-nya…ada jalan keluarnya.
(3) SOSIALISASIKAN
Kejadian paling sering dan paling buruk dalam perjanjian adalah ketakutan atau kemalasan membicarakan ketakutan ini ke partner atau pemilik lahan. Banyak alasan, dari yang takut partnernya tersinggung, takut pemilikm tanah malah batal, gak jadi jual tanahnya, sampai ketakutan kalau kita dibilang cerewet dan penakut. Lupakan hal itu, lebih baik bicara ‘pahit’ didepan tapi ‘manis dibelakang daripada sebaliknya. Kalau memang partner me ngundurkan diri, pemilimk tanah membatalkan jual, itu akan lebih baik saat di awal-awal, daripada saat kita sedang menjalankan proyek, rugi waktu rugi uang. Jadi…sosialisasikan-lah. Bicarakan baik-baik untuk kepentingan bersama. Daripada partner atau pemilik tanah menolak tanda tangan didepan notaris, lebih baik cara ini ditempuh he he…
(4) KONSULTASIKAN DENGAN NOTARIS
Ingat anda bukan sarjana hukum, kecuali kalau yang baca artikel ini SH atau notaris he he… . Jadi setelah draft dibuat, exit dipikirkan, sudah disosialisasikan…bawalah ke notaris yang berpengalaman untuk dibuatkan ‘bahasa hukum’-nya, yak betul, bahasa saat anda menyusun draft adalah bukan bahasa hukum, butuh notaris atau praktisi hukum supaya jadi bahasa hukum, yang tentunya akan berfungsi saat terjadi sengketa.
Nah kalau proses ini sudah terjalani dengan baik, semua kemungkinan terburuk tentu sudah ter’cover’ semua. Kita tentu lebih nyaman menjalankan proyek tersebut.

Pikirkan kemungkinan terburuk maka yang datang kemungkinan terbaik

2 Komentar

Filed under Legal dan Perijinan

2 responses to “BAGAIMANA MEMBUAT PERJANJIAN YANG AMAN

  1. Kris Budi K

    apakah notaris boleh mengesahkan adanya perjanjian yang tidak memiliki batas waktu? alias perjanjian seumur hidup?

    • Setahu saya tidak boleh, tetapi saya alami ada beberapa perjanjian yang tidak akan berakhir meskipun penandatangan perjanjian meninggal dan akan diteruskan oleh ahli waris tanpa mengubah isi perjanjian, jadi bahkan lebih dari seumur hidup si penanda tangan perjanjian. Tetapi tentu ada batas akhir semisal tanah sudah lunas atau kewajiban dari salah satu penanda tangan perjanjian sudah selesai. Jadi konteksnya adalah batas waktu tetap ada sesuai tujuan perjanjian tersebut. Kalau tanpa batas waktu yang jelas tentu akan menyulitkan kedua belah pihak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s