SAYA BOLEH DATANG SERIBU TAHUN LAGI

Sering survey lahan? Pasti kalau rekan property lagi semangat jawabannya adalah “Empat kali sehari mas, sudah melebihi minum obat wkkkkkk”. Yups…survey lahan adalah awal dari semua kegiatan property. Ibaratnya kalau kita mau ke Bandung naik mobil, lahan itu adalah mobilnya hwahahahaha. Bagaimana bisa bicara jalan-jalan ke Bandung kalau mobil aja gak ada. Gowes? Boleh-boleh saja, naik pesawat juga boleh wkkkkkk. Ups koq lari dari konteksnya.

Balik lagi ke topik lahan. Lahan sebagai faktor utama property mengambil porsi paling besar yaitu dikisaran 20-30% harga pokok rumah. Kedua adalah faktor bangunan dan seterusnya infra struktur dll. Dengan porsi yang demikian besar tentu sudah pasti kalau rekan property ingin melakukan efisiensi yang paling signifikan adalah dengan menekan harga tanah. Betul gak? Ya iyalah, kalau saya punya perumahan beromzet 10 Milyar, tanahnya saja sudah 2 s/d 3 Milyar. Lumayan gede khan?

Berarti kita harus cari lahan dengan harga murah? Betul betul betul…salah satu faktor yang bisa membuat kita bersaing adalah efisiensi tanah yang juga meliputi biaya tanah. Semakin kecil atau murah tanah yang kita dapatkan semakin besar peluang kita untuk bersaing dengan kompetitor. Ingat gak dengan perumpamaan developer adalah seperti tukang roti. Kita adalah ibarat tukang roti yang menjadi koki dan mengolah terigu jadi roti. Semakin murah harga terigu yang kita dapat semakin murah roti itu bisa kita jual. Demikian juga developer, semakin murah tanah kita dapat, semakin besar peluang untuk menjual dengan harga bersaing dibanding kompetitor. Tentunya kita juga tidak lupa dengan faktor lain selain harga tanah, semisal infrastruktur, bangunan, strategi promosi dll tapi analogi ini saya ambil untuk mempermudah pemikiran rekan property.

Terus bagaimana dong kalau pemilik tanah selalu menawarkan harga tanah dengan harga yang tinggi atau minimal sama dengan harga rata-rata tanah disekitar lokasi? Tentu kita harus bernegosiasi dengan pemilik tanah dan kita sodorkan analogi diatas tadi. Dalam berbagai kasus negosiasi tanah, pola seperti yang saya tulis diatas cukup membantu untuk memberi pemahaman ke pemilik tanah bahwa kita sebagai developer atau ‘tukang jualan tanah dan bangunan’ tentu mencari ‘bahan baku’ dalam hal ini adalah tanah dengan harga seminimal mungkin. Saya bilang seminimal mungkin bukan semurah mungkin, karena harga tanah 3 juta/m pasti mahal, tapi akan terlihat ‘murah’ kalau tanah disekitarnya semisal Bintaro dijual dengan harga kisaran 4 juta/m. Jadi murah lebih mengacu ke ‘mampu bersaing’ dengan perumahan sekitar.

Ok, kalau semisal pemilik tanah tidak mau dan berkeras dengan harga tersebut? Tentu alternatif lain adalah mencari lahan yang lain yang lebih murah kecuali anda sudah siap bersaing dengan kompetitor dengan harga tanah yang lebih mahal dibanding kompetitor. Atau minimal rekan property bisa menawar sehingga harga secara hitungan ‘bisa bersaing’ dengan kompetitor. Bagaimana caranya menghitungnya? Wah itu panjang, anda bisa dapatkan saat Workshop he he he (promosi.com)

Wah repot dong kalau mencari-cari tanah terus yang bisa bersaing? Ya memang repot, tetapi tentu anda akan mendapatkan jaminan mampu bersaing apabila bisa mendapatkan tanah dengan harga murah. Betul gak? Daripada anda mendapatkan tanah dengan harga mahal dan dikemudian hari anda kesulitan untuk bersaing dengan kompetitor karena harga jual anda kemahalan? Hayo pilih mana?

Kalau gitu apabila ada pemilik lahan menawarkan tanah dengan harga tinggi ditolak saja? Tolak saja, apalagi kalau harganya lebih tinggi, tidak laku-laku setelah ditawarkan bertahun-tahun, harga naik terus mengikuti harga pasar. Sudah pasti harga tanah tersebut kemahalan. Kalau mahal dan harga terus naik, kenapa saya harus buru-buru beli sekarang. Saya boleh datang kapan saja toh harga selalu naik. Kalau harga murah saya harus datang secepatnya.

Jadi saya boleh datang seribu tahun lagi untuk membeli tanah tersebut, kalah dong Chairil Anwar

Tinggalkan komentar

Filed under Lahan dan Investor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s