BARU KENAL EH NGAJAK TIDUR

Lirik diatas pernah sangat terkenal di medio 2010, ya saat itu siapa yang tak kenal lagu Keong Racun yang dinyanyikan oleh Sinta dan Jojo eh kalau gak salah di-re-make, aslinya yang nyanyi adalah Lissa, dangduters dari Bandung kalau gak salah. Saat itu mereka sangat terkenal karena mengusung lirik yang kocak dan gaya super lebay yang ditunjukan di video Youtube oleh Sinta dan Jojo.

Saya gak akan membahas mengenai hal Sinta dan Jojo beserta Keong Racun-nya, sudah cukup banyak yang membahas gaya kocak dan lebay mereka plus tanggapan dari jutaan penggemar video tersebut. Kita akan bahas mengenai lirik yang menggelitik yaitu “baru kenal eh ngajak tidur” he he. Pasti logikanya agak jorok meskipun betul, yaitu kalau baru kenalan antar pria dan  wanita, koq tahu-tahu ngajak tidur pasti kemungkinan ditolak hampir 100% wkkkkkkk. Betul gak? Boleh koq dicoba para cowok, tapi saya gak tanggung jawab ya kalau nanti ada sol sepatu atau sendal mampir di pipi wkkkkkkkkkk. Plus teriakan “maliiiiing” wkkkkkkk.

Rekan property, kondisi mirip diatas sering terjadi pada saat pengembangan produk tertentu terutama oleh pengembang atau developer baru. Dengan kondisi belum dikenal konsumen, ya iyalah..gimana mau dikenal lha wong ini proyek pertamanya, tentu akan timbul keraguan di benak konsumen. Hal inilah yang sering memicu suatu proyek perumahan baru sering tidak disambut antusias oleh calon konsumen karena developer-nya baru mengembangkan proyek pertamanya dan relatif tidak dikenal. Tentu ada sedikit bantahan, ‘khan semua orang butuh rumah, harusnya pasti laku dong, meskipun developernya kurang dikenal?”. Ok, memang papan atau rumah adalah satu diantar tiga kebutuhan primer atau pokok. Coba yang dua lainnya disebutkan? wkkkkkk masih apal gak itu pelajaran SMP wkkkk. Yups…diantara tiga kebutuhan pokok itu ternyata papan menempati harga paling mahal atau tinggi diantara sandang dan pangan. Wajar dong kalau calon konsumen lebih berhati-hati membeli rumah dibanding sandang atau pangan. Apalagi ditambah dengan track record beberapa perumahan yang gagal memberikan kewajibannya ke konsumen, lengkap sudahlah kekhawatiran yang berujung pada kecurigaan terhadap developer baru. Kalimat seperti “jangan-jangan ijinnya belum ada”, “jangan-jangan nanti gak bisa bangun”, “jangan-jangan…..” sampai berujung pada kalimat “ini developer mana ya? koq belum pernah dengar?”

Kenapa? Ya tadi itu, anda dianggap developer keong racun, baru kenal koq ngajak beli wkkkkkkkk. Sedih ya? Wkkkkk…jangan sedih dong. Terus apa yang harus dilakukan supaya gak dianggap developer keong racun? Simak tips berikut.

Salah satu faktor yang hars dipertimbangkan saat akan melakukan launching adalah fase yang disebut ‘marketing think phase’ atau tahap persiapan marketing, yang salah satunya adalah faktor company atau developer itu sendiri. Salah satu kunci keberhasilan launching adalah developer harus bonafid dan terpercaya sehingga konsumen akan yakin dengan produk yang ditawarkan. Yaaaah pak Heru…semua orang juga tahuuuuu, kalau seterkenal Citraland, Agug Podomoro, Sumarecon mah orang antri atuh…lha kalau kita-kita gimana?

Jawabannya adalah kita harus bisa dipandang bonafid dan terpercaya oleh konsumen. Salah satu kunci yaitu bonafid adalah berarti kita dikenal dan dianggap mampu mengembangkan perumahan oleh konsumen. Key-nya adalah dikenal dulu, terus bagamana kalau kita tidak dikenal? Gampang, sering gak lihat bilboard di pinggir jalan yang berbunyi “SEBENTAR LAGI AKAN DIBANGUN MALL OLEH PT X” atau “DISINI AKAN DIBANGUN RUKO 4 LANTAI OLEH PT Y” atau “MOHON DOA RESTU AKAN DIBANGUN BUSSINESS CENTRE OLEH PT Z”….betuuuuuuul…sepanjang PT X, Y, Z adalah belum dikenal, maka upaya ini adalah upaya memperkenalkan diri ke calon konsumen. Diharapkan dengan pemasangan bilboard tersebut 1-3 bulan sebelum launching adalah upaya supaya calon konsumen merasa tidak asing dengan developer dan produk yang akan ditawarkan. Se-simple itu? Tentu tidak. Praktek inipun mengandung kelemahan apabila tidak ada tindak lanjut. Apakah kelemahan tersebut? Yaitu setelah upaya menjadi bonafid anda juga harus berupaya supaya dipercaya, yaitu dengan melakukan aktivitas development yang sesungguhnya. Infrastruktur, rumah contoh, jalan, taman dll. Kalau tidak, maka upaya pemasangan bilboard tersebut akan jadi bumerang, yaitu calon konsumen malah berbalik sama sekali tidak percaya. Kalau bilboard tersebut terpasang lebih dari 3 bulan tanpa ada upaya development di lahan tersebut. Yang muncul adalah pemikiran “oooo developernya gak punya modal'”…”oooo pasti ada masalah di ijin atau tanahnya belum dikuasai” dll. Capek khan? Jadi upaya perkenalan diri terhadap calon konsumen juga harus disertai upaya pembuktian diri bahwa anda memang developer yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkan sebuah proyek perumahan.

Saran saya, selain pemasangan billboard juga disertai penyebaran leaflet di lokasi-lokasi dimana target market anda berada. Dengan demikian calon konsumen anda akan familiar dengan keberadaan anda sebagai developer pemula. Tentunya hal ini akan sangat membantu saat anda launching nantinya, minimal tidak dianggap sebagai keong racun wkkkkkkkkk. Dan saya pernah mempergunakan teknik ini untuk menghasilkan launching yang sukses. Mau tahu ceritanya? Ikuti saja workshop JADS yang salah satu materinya adalah “cara melaunching produk perumahan”, anda akan belajar bagaimana mempersiapkan lauching perumahan sehingga produk anda tidak cuma dikenal tapi juga diminati calon konsumen. Sakit hati khan kalau launching agk ada yang mencolek satupun? Wkkkkkkk

Jadi kalau sudah lama kenal boleh ngajak tidur? Emang kucing…kalau sudah kenal terus diajak tidur? wkkkkkk

Tinggalkan komentar

Filed under Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s