EMANG SAYA PAWANG HUJAN?

Hari-hari terakhir ini sudah masuk musim hujan. Tidak pandang tempat dan waktu hujan bisa turun kapan saja. Gak siang gak malam, gak pagi gak sore, bisa lebat bisa rintik-rintik bahkan kadang disertai angin badai. Happy hujan-lah pokoknya, apalgi menjelang Imlek saat seperti sekarang ini, banyak hujan banyak rejeki katanya. Pokoknya kalau Imlek hujan maka dipastikan akan banyak keberuntungan sepanjang tahun, bener gak sih kutipan saya ini? wkkkkkkk.

Rekan property, ternyata banyak hujan banyak rejeki tidak selamanya berlaku saat pelaksanaan proyek. Banyak developer yang mengeluh karena pekerjan kontraktor lambat akibat hujan, banyak kontraktor mengeluh karena tukangnya gak kerja tapi terpaksa dibayar karena terhambat hujan, banyak tukang yang mengeluh karena sudah kangen pulang kampung tapi terpaksa tinggal lebih lama  karena menyelesaikan pekerjaan yang terhambat hujan. Perasaan hanya kodok di proyek yang tidak mengeluh saat hujan.. wkkkkkkkk.

Kondisi hujan ini ternyata juga memicu perselisihan antara developer dan kontraktor. Tentu karena terkait dengan progress proyek yang terhambat karena hujan. Seperti yang saya alami saat berkunjung ke salah satu proyek teman saya. Begini kisahnya, langsung saja kita ke Te Ka pe….. Di suatu sore yang mendung, saya kebetulan lewat di salah satu proyek teman saya yang sudah sold out dan progress pembangunan sedang dikejar karena konsumen sudah bersiap-siap akad kredit. Sampai di lokasi proyek saya lihat teman saya sedang beradu mulut dengan kontraktor. Sang kontraktor dibantu oleh beberapa tukangnya ribut dengan teman saya yang juga dibantu oleh beberapa staff-nya. Intinya adalah keterlambatan progress kontraktor yang tidak bisa ditolerir oleh developer, sementara sang kontraktor bersikeras hambatan utama adalah faktor alam atau hujan. Melihat hal tersebut saya tersenyum simpul. Teman saya yang melihat kedatangan saya langsung berteriak “Woi, jangan cuma senyam-senyum saja,bantuin dong ini jelasin ke kontraktor bebal satu ini supaya secepatnya menyelesaikan pekerjaannya”. Wah, dipanggil begitu malah sekalian saya memperlambat langkah, biar teman saya dongkol sekalian wkkkkkkk.

Setelah sampai didekat rombongan lenong tersebut, yaa betul rombongan lenong, dari tadi berisik terus bertengkar soalnya wkkkkkk, saya minta lembar laporan harian selama seminggu terakhir. Glek…semuanya terdiam. Saya bingung terus saya bilang “Lho koq pada diam semua? Memangnya kalian gak punya laporan harian?” mereka semua saling berpandangan dan dilanjutkan dengan menggelengkan kepala.

Walaaaaaaah…hari gini gak punya laporan harian, pantas saja mereka bertengkar tidak ada ujungnya. Setelah saya tanya berulang-ulangpun tetap mereka gak punya dan gak mereka terapkan. Alasan paling utama adalah developer merasa proyeknya kecil dibawah 1 hektare, sehingga untuk membangun 50-an rumah mereka merasa terlalu repot menerapkan prosedur laporan harian dan sederet form teknik lainnya. Kontraktor sebagai pihak pelaksana yang seharusnya juga membuat laporan harian merasa tidak perlu karena “tidak diminta developer”. Waaaaah…pemikiran yang salah…bener-bener salah.

Rekan property, dari pembicaran singkat dengan teman saya dan kontraktornya, terungkap bahwa pokok permasalahan adalah karena kontraktor telat hampir 3 minggu, tetapi kontraktor berkeras bahwa hari hujan di 3 bulan terakhir ini melebihi 20 hari, sehingga wajar kalau dia terlambat 3 minggu. Tetapi developer merasa hari hujan tidaklah melebihi 20 hari, bahkan berkeras cuma 10 hari. Oalaaaaah…repot amat, Amat aja males kalau mengingat-ingat hari apa saja yang hujan di 3 bulan terakhir, emang saya pawang hujan, katanya wkkkkkkk.

Bercermin dari hal diatas, tentu peristiwa tersebut tidak akan terjadi apabila developer dengan konsisten menerapkan laporan harian yang tidak hanya berisi mengenai jam kerja, alat kerja, material kerja, prosedur kerja tetapi juga soal cuaca. Apabila ada record yang jelas maka debat kusir seperti yang saya ceritakan tersebut diatas tidak perlu terjadi. Kenapa? Ya, karena ada catatan yang jelas mengenai kapan dan apa saja aktivitas kontraktor yang dicatat oleh pengawas lapangan developer. Jadi setiap penyimpangan atau hal-hal yang diluar standar seperti jam kerja, alat kerja, material kerja dll bisa diketahui secara pasti tiap harinya dan bisa dievaluasi.

Salah satu pemikiran yang salah adalah keenganan developer terutama skala kecil untuk melakukan prosedur ini karena dianggap membebani dan memboroskan waktu. Satu hal yang perlu diingat adalah fungsi form laporan harian, tidak sekedar berkisar di konteks teknik, tetapi sampai konteks legal, yaitu sebagai dasar atau bukti kelalaian dan kesalahan pihak kontraktor apabila mereka melewati batas waktu dan lingkup kerja mereka sebagai kontraktor. Banyak kasus pemutusan SPK didasarkan atas evaluasi dari laporan harian.

Laporan harian akan berfungsi sebagai kontrol atas pekerjaan kontraktor dan juga ‘early warning’ mengenai keterlambatan dan kualitas pekerjaan kontraktor. Apabila kelalaian kontraktor dengan jelas tertera dalam laporan harian, maka dengan mudah dan cepat developer bisa minta pertanggung-jawaban kontraktor dan memintanya untuk memperbaiki performa-nya.

Mengingat demikian pentingnya laporan harian tersebut, apakah anda masih memutuskan untuk tidak memakainya? Oh noooooo….emang saya pawang hujan?

______________________________________________________________

Masih bingung mengenai form apa saja yang dibutuhkan untuk kegiatan pelaksanaan atau teknik di lapangan? Ikuti Workshop Jurus Aman Developer Sukses (WS JADS) yang salah satu sesi-nya akan membahas tuntas mengenai cara kerja dan system kerja divisi teknik pada developer.

Tinggalkan komentar

Filed under Teknik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s