BELAJAR DARI AIR ASIA

Pernah naik Air Asia? Atau minimal Low Cost Carrier sejenisnya, bisa juga Ryan Air yang dari Skotlandia itu wkkkkkk. Wah pagi-pagi koq sudah tanya mengenai soal penerbangan. Berat amat cui…mending bahas soal pramugari-nya baru segerrrrrrr wkkkkkkk.

Rekan property, saya memang sangat tertarik mengenai Air Asia, sampai pas saya kuliah dulu…cieeeee ternyata gw kuliah juga ya wkkkkkkk…selalu bahasan mengenai Low Cost Carrier terutama Ryan Air atau Air Asia menjadi topik bahasan paling menarik terutama saat bahasan marketing tentunya. Sampai-sampai saya beli tuh buku tulisan Tony Fernades, bos-nya Air Asia.

Dari bahasan yang ada, banyak hal menarik mengenai Air Asia, baik strategi-nya maupun marketingnya. Tapi itu tidak akan kita bahas semua, terlalu panjang wkkkkkkkk. Kalau kepanjangan kapan kerjanya dong…cuma baca blog ini mulu wkkkkkk.

Dari sekian bahasan ada satu hal yang sangat menarik dan bisa jadi ide untuk merketing adalah mengenai tiket super murah yang dijual oleh Air Asia. Bayangin saja mereka bisa beriklan “Jkt-KL cuma 35 ribu rupiah” atau “Jkt-Beijing 99 ribu rupiah” dst. Sangat menarik tentunya iklan seperti itu, konsumen dipastikan akan antri untuk beli dst. Tapi tentu ada syaratnya, yaitu seat atau kursi yang murah tersebut dibeli saat ini dan baru bisa digunakan 6 bulan atau setahun lagi. Rekan property, maaf kalau anda salah duga, saya tidak akan membahas mengenai iklan ini jadi menarik atau jadi bahan promosi tingkat tinggi dsb. Sudah cukup banyak tulisan yang membahas mengenai cara berpromosi ala Air Asia yang murah, membuat orang melirik, bombastis, berbeda dengan promosi lain dll. Tapi pernahkan anda tahu alasan kenapa strategi marketing gila tersebut dilakukan?

Kalau melihat ulasan sang CEO, alasan untuk menjual kursi atau seat di Air Asia sedemikian murah adalah ‘tidak semua seat terjual’ pada saat penerbangan. Seperti yang kita tahu, kapasitas pesawat terbang bervariasi antara 100 sampai 300 seat atau tempat duduk. Dan mereka tidak bisa berlaku seenaknya seperti angkot yang kadang kalau penumpangnya kurang disuruh turun ganti angkot lain wkkkkkkkkk. Penah ngalami gak? Lagi enak-enak duduk manis di angkot tau-tau disuruh pindah angkot depannya wkkkkkk. Padahal di angkot pertama sebelahnya cewek manis, di angkot berikutnya sebelahnya nenek-nenek wkkkkkkk. Siaaaal amat…

Di dunia penerbangan, berapapun jumlah penumpang anda, tetap pesawat harus berangkat sesuai schedule, bahkan meskipun penumpangnya cuma satu orang. Dengan kondisi seperti itu, Air Asia bisa melihat bahwa ada sekian % tempat duduk yang pasti tidak terjual di penerbangan reguler dan tetap saja pesawat harus terbang dengan biaya operasional yang full tentunya. Mau penumpangnya full apa kagak tetep aja biaya operasional penerbangan harus full, mana ada pramugari dibayar sesuai jumlah penumpang wkkkkkkkk.

Bercermin dari hal diatas maka Air Asia berpikir bahwa sebenarnya seat yang sebelumnya tidak terjual hanya menyumbang nol rupiah atau nol dollar. Ya iyalah, khan kosong, siapa yang mau bayar? Wkkkkkk. Nah daripada gak dapat duit, dijual 1 rupiah atau 1 dollar juga tentu lebih baik khan? Toh penumpang yang bayar cuma 1 rupiah atau 1 dollar juga tidak akan menambah beban operasional? Khan kosong gak kosong tetap aja bayar operasional pesawat full.

Dari pemikiran tersebut maka dibuatlah program promosi dengan menjual seat yang sebelumnya “tidak kejual” dengan harga sangat murah dan sekaligus sebagai promosi Air Asia yang sampai saat ini susah diikuti oleh pesaingnya. Tapi rekan property, tentu tidak cuma pertimbangan soal seat yang tidak terjual sehingga dijual murah yang membuat Air Asia jadi besar, banyak faktor lain tentunya yang tidak akan kita bahas disini.

Lalu apa yang bisa rekan proeprty ambil dengan pelajaran diatas? Ok, kalau dalam dunia penerbangan seat yang tidak terjual mungkin bisa dikategorikan sebagai seat yang jelek. Pernahkan kita punya kavling yang jelek di perumahan kita? Tentu sangat punya wkkkkkk. Mulai yang lokasinya paling ujung atau paling jauh, tusuk sate, bentuknya gak kotak, kontur dll. Lalu kapan kira-kira mereka terjual? Kebanyakan setelah piihan lokasi yang bagus-bagus sudah terjual tentunya, betul gak? Terus setelah gak ada pilihan dan tahu kalau lokasinya jelek, apa reaksi pertama calon konsumen? Menawar tentunya, dengan harga lebih rendah dan dengan alasan adalah kondisi jelek tadi. betul sekali….Wajar dong kalau kondisinya bagus dijual mahal kalau jelek pasti minta diskon. Manusiawi banget wkkkkkk. Tentunya kavling-kavling tersebut terjual setelah sekian lama “mendompleng” promosi dan biaya OHC lainnya, betul gak? Jadi sudahlah dijual murah, biaya promosi dan OHC-pun sama dengan kavling-kavling yang bisa dijual lebih mahal, mirip rugi dua kali ya? Wkkkkkk.

Kenapa gak mencontek Air Asia saja? Daripada dijualnya nanti, sudah lama, membebani promosi dan OHC, sudah begitu dijual murah juga. Kenapa gak sekalian aja di awal proyek kavling-kavling tersebut dijual “super murah’? Sebagai perbandingan, katakanlah harga rumah+kavling adalah 100%, dikurangi OHC dan promosi 15%, biaya tanah dan lainnya, 60% tersisa 25% untuk profit. Apabila anda jual kavling yang jelek tersebut dan dijualnya pada saat proyek sudah berjalan mungkin anda harus merelakan diskon sampai 10%. Profit tersisa tinggal 15%, karena semua biaya tidak bisa dihemat. Kenapa? Unit yang jelek tersebut sudah membebani OHC yang 15%. Ok, kita ikuti cara Air Asia…coba unit tersebut terjual diawal, katakanlah dengan diskon 20%, karena tidak membebani OHC maka anda masih bisa mendapatkan profit meskipun cuma 20%. Betul gak? Dan dari sisi manapun tentu diskon 20% lebih menarik dibanding diskon yang cuma 10%. Apalagi jika ditambah konsep anda mau profit berkurang supaya ada unit bombastis, mungkin anda bisa offering sampai diskon 25%. Mantap gak gan?

Yang lebih menarik lagi adalah selain anda bisa membuat iklan bombastis dengan judul gila-gilaan, ada faktor lain yang juga membuat proyek anda semakin menarik dengan strategi ala Air Asia ini. Apakah itu? Sama seperti Air Asia, mereka tidak cuma berhenti di pemikiran dapat duit dari kursi yang tidak terjual, tetapi mereka mengembangkan konsep yang menyentuh psikologis konsumen. Yaitu penerbangan yang selalu penuh, ya iyalah pasti penuh Air Asia…seat murahnya gitu, akan memberikan efek psikologis calon konsumen kalau penerbangan tersebut laku, bagus dan memuaskan. Yups, efek tersebut yang coba saya perkenalkan kepada rekan property.

Bayangin apabila diawal pembukaan proyek, setelah anda kasih diskon gede untuk unit jelek dan unit tersebut terbeli. Beberapa waktu kemudian calon konsumen akan semakin yakin kepada perumahan anda, kenapa? Ya iyalah, unit jelek seperti diujung, tusuk sate, gak beraturan aja laku kebeli, apalagi unit bagus lainnya? Berarti proyek ini bagus tuh dan layak dibeli, kira-kira demikian pemikiran konsumen. Betul gak gan?

Jadi sekali dayung, dua tiga hari capeknya gak ketulungan wkkkkkk. Gaklah, maksudnya sekali anda buat strategi pemasaran, maka efeknya bisa dobel.

Tertarik untuk mencobanya? Pilih saja unit jelek di lokasi anda, jual murah dan voila….efeknya akan dobel. Jadi sekarang anda gak usah khawatir ada unit jelek di perumahan anda, justru itu bisa jadi bahan promosi bombastis wkkkkkkkkk.

Kapan-kapan naik Air asia lagi ahhhhh…

Tinggalkan komentar

Filed under Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s