INJURY TIME

Pagi rekan property, sudah minum kopi belum? Kalau saya sudah dua gelas wkkkkkkk. Soalnya ngantuk berat, semalam baru diskusi ama teman yang mau develop lahan di Bekasi.

Topik bahasannya pasti gak jauh-jauh dari proyek wkkkkkk. Ya iyalah, ntar kalau mbahas cewe malah gawat wkkkkkkkk.

Teman saya curhat dia merasa capek mengurusi proyek pertamanya. Serasa menguras seluruh pikirannya. Hari ke hari dia merasa sangat menyiksa karena mengerjakan pekerjaan yang menurutnya susah. Maklum teman saya tadinya bukan fokus di developer, tetapi supplier bahan kimia wkkkkkkk. Lama-lama kalau stress bisa-bisa diracun semua tuh pakai bahan kimia wkkkkkk. Tentu saja melakukan pekerjaan yang bukan fokusnya terasa lebih susah.

Dilematis memang, kondisi teman saya ibarat maju kena mundur kena. Koq gitu? Ya iyalah, proyeknya kalau ditinggal sekarang tentu dalam kondisi belum untung bahkan mungkin posisinya masih merugi karena banyaknya hutang dibanding piutang, sementara kalau diteruskan teman saya sudah merasa jenuh dan merasa sudah terlalu stress.

Sambil berbincang bincang kami sambil menonton babak kelima Piala FA yang menampilkan Liverpool versus Manchester United. Laga berlangsung menarik sekali dengan kedua klub saling serang dan kiper-kiper mereka berjibaku mati-matian menahan gempuran penyerang lawan.

Laga berakhir dengan skor 2-1 untuk Liverpool dengan gol yang dicetak di saat menit-menit terakhir. Dan laga berakhir dengan waktu tambahan atau injury time 3 menit yang gagal dimanfaatkan MU untuk mengejar ketertinggalannya.

Selesai melihat tayangan tersebut saya coba bahas dengan teman saya kaitannya dengan proyek. “Eh lu lihat gak pertandingan tadi?” jawab teman saya “Lihatlah, emang gw buta wkkkkkkkk”….Ok, lanjut saya, banyak pelajaran yang bisa kita lihat dari pertandingan yang menarik tadi. Kamu lihat bahwa Liverpool tidak mendapat kemenangan dengan mudah, mereka harus berjuang sampai 90+3 menit supaya bisa memastikan kemenangan di babak kelima piala FA ini dan melaju ke babak selanjutnya. Liverpool harus “menyelesaikan” waktu pertandingan yang 90 menit lebih tersebut ditambah melewati injury time untuk mendapat “kemenangan” atas rivalnya.

Rekan property, gambaran diatas sangat mirip dengan kondisi apabila anda melakukan development atau bisnis property. Bisnis property secara ‘nature’ adalah bisnis yang harus diselesaikan atau finish. Kecil kemungkinan kita untuk mendapatkan “kemenangan” atau mendapatkan keuntungan apabila kita quit atau berhenti ditengah jalan. Dengan kondisi profitabilitas adalah berkisar 20%-30% kita bisa bayangkan bahwa keuntungan hanya akan muncul saat kita sudah menjual diatas 70%-80% unit bangunan yang kita develop. Kalau belum diatas angka tersebut bisa dipastikan yang muncul adalah beban bukan keuntungan. Apa saja itu? Pasti tidak jauh dari hutang tanah, hutang modal, hutang pajak dll.

Rekan property, pemahaman mengenai keharusan untuk menyelesaikan proyek inilah yang kadang tidak kita persiapkan di awal. Apabila menilik pada profitabilitas yang berkisar diangka tersebut, dapat diprediksi bahwa keuntungan baru akan muncul disaat 3/4 umur proyek. Meninggalkan proyek saat dibawah umur tersebut pasti sangat beresiko. Padahal kita harus fight dalam hitungan bulan dan tahun, waktu yang lumayan lama tentunya. Pertanyaan selanjutnya adalah “Sanggupkah anda fight sampai sedemikian lama?”

Rekan property, semangat untuk menyelesaikan proyek inilah yang merupakan “semangat” yang sebenarnya. Tidak cukup apabila anda hanya berhenti sampai cari lahan, persiapan team, cari investor, ketemu rekanan bank dll. Semangat menyelesaikan proyek adalah semnagat yang sesungguhnya dari bisnis ini.

Ok-lah, saya sudah gak bersemangat, capai, masih mungkinkah saya mendapat keuntungan dari bisnis ini. Pertanyaan yang sulit yang mungkin bisa anda jawab sendiri. Coba anda bercermin pada peraturan FIFA, apabila satu team mengundurkan diri atau memutuskan untuk tidak menyelesaikan pertandingan dengan alasan apapun tanpa rekomendasi wasit atau pihak yang berwenang dari FIFA maka akan dihukum dengan kekalahan dari rivalnya dengan skor 3-0. Meskipun mungkin saat sebelum memutuskan menghentikan pertandingan mereka unggul katakanlah 5-0 tetap akan dianggap kalah dengan skor 3-0. Sadis ya? Wkkkkkkk sadis banget. Tapi kita bisa bercermin bahwa apabila quit ditengah project keadaan bisa berubah jadi buruk.

Setelah berdiskusi dengan topik bola tadi, teman saya akhirnya memutuskan untuk meneruskan bisnis property pertamanya, dan akan belajar lebih banyak untuk menutup kekurangan pengetahuannya mengenai bisnis property ini. Supaya gak bengong-bengong amat wkkkkkkk.

Jadi masih menggampangkan bisnis property? Persiapkan dulu mental kita.

Tinggalkan komentar

Filed under Motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s