JURUS AMAN TAKE OVER

Sore rekan property, lagi pada sibuk siap-siap coffe break atau malah lagi terjebak kemacetan? Atau malah terjebak dalam meeting? Wkkkkkkkk, maksudnya udah bosan meeting cuman mau keluar sekedar merokok segan ama big boss wkkkkkkkk.

Topik kali ini adalah mengenai tips-tips take over atau ambil alih perumahan. Rekan property mungkin ada yang sudah terbiasa take over atau sedang berencana take over. Semoga artikel ini bisa jadi bahan sharing bagaimana langkah-langkah selanjutnya setelah take over dilakukan. Jadi saya tidak akan bahas bagaimana caranya take over, tapi bagaimana menangani proyek yang sudah di take over. Mengenai bagaimana caranya mentake over proyek akan saya bahas di lain artikel. Kalau masih ingat wkkkkkkkkkkk, tagih aja ya kalau saya lupa.

Rekan property, kondisi take over atau ambil alih ini biasanya dilakukan apabila kondisi proyek yang ditake over dalam kondisi jelak, gak laku, image buruk, punya hutang dll. Pasti dooong, kalau proyeknya bagus, laku keras, image-nya baik,banyak piutang ngapain juga dijual atau diambil alihkan, emang gak ada kerjaan wkkkkkkkk.

Tentu kondisi diatas bukan kondisi yang menyenangkan. Ya iyalah, kita ditinggalin proyek yang ‘remuk’ gitu pasti susah. Sedangkan develop lahan dari awal aja susah, apalagi ini punya history yang lumayan jelek. Pasti susah setengah mati ya gak? Eh susah setengah hidup ding wkkkkkk. Bayangin saja, kemungkinan masih ada hutang ke konsumen, hutang ke supplier, mungkin juga sudah blacklist bank, belum lagi kepercayaan calon konsumen, kepercayaan kontraktor dan supplier yang rendah, ditambah cap sebagai proyek gagal, dan sejumlah issue yang mungkin ditiupkan saat proyek tersebut dimulai lagi dsb. Weleeeeeh…Opo rak modiaaar sampeyan..wkkkkkkkkkkk.

Rekan property, tentu bukan hal yang mudah untuk menjadikan proyek yang di take over tersebut running well dan akhirnya bisa laku terjual semua. Tidak akan semudah membalikan telapak tangan. Semua pasti ada proses-nya yang harus ditempuh supaya proyek yang kadung ‘remuk’ tersebut bisa menjadi profit. Nah tips dibawah ini berdasarkan pengalaman saya menangani proyek yang take over atau proyek yang sebelumnya terkena masalah. Kalau ada rekan property yang kebetulan sedang atau sudah pernah menangani proyek take over mungkin bisa sharing pengalaman dengan saya. Oke…kalau begitu langsung saja kita ke Te Ka Pe….

Proyek take over, tentu dengan kondisi yang tidak biasa, meninggalkan kesan jelak, banyak hutang dsb. Lantas apa saja yang harus dilakukan supaya bisa kembali laku terjual? Kita mulai saja….
(1) ZERO CONDITION
Kondisi nol, saya istilahkan demikian, yaitu kondisi saat proyek belum memiliki track record baik jelek maupun baik. Mirip kalau kita mulai proyek baru dari lahan yang kosong akan kita olah. Tidak ada record jelek maupun baik,semua zero. Yup…kondisi ini yang saya syaratkan sebagai awal pijakan pengelolaan proyek. Dan tentunya kalau proyek ini adalah proyek ‘remuk’ atau gagal, yang tersisa adalah record jelek, jarang record baik masih tersisa. Langkah kita apa? Balikan ke ‘zero condition’ terlebih dahulu. Tanpa hal ini dilakukan, akan percuma, semisal anda melakukan progres lapangan atau promosi. Yang muncul justru cibiran, kecurigaan sampai upaya menyetop lajunya proyek. Kenapa? Ya iyalah, masih ada record jelek, konsumen lama masih dendam misalnya, kontraktor belum dibayar misalnya dsb. Makanya langkah awal kita adalah zero condition ini. Bahkan ada cerita, teman yang take over suatu proyek perijinannya kemudian dihambat. Kenapa? Ternyata pimpro dan pemilik proyek lama masih punya hutang uang jasa ke pejabat tata kota yang dimaksud. Pantas sajaaaaaa….wkkkk. Ok, saran saya, anda inventarisir apa saja record jelek yang ada, mulai dari hutang konsumen, hutang kontraktor, hutang supplier, bahkan hutang jasa, sampai semisal hutang bikin fasos fasum untuk sumbangan masyarakat sekitarpun harus ada inventraisir. Karena itu semua adalah potensi hambatan proyek anda. Tinggalkan kebiasaan berdalih ‘Ah itu khan janji pemilik proyek lama, bukan salah saya”. Ingat anda take over proyek all in,lengkap beserta semua permasalahnnya. Apabila anda keberatan dengan semua hutang tersebut, katakanlah karena proyek lama boros, anda bisa khan menawar ke pihak ke-3 tersebut supaya permasalahan clear dan masuk ke zero condition. Komunikasi dengan pihak yang selama ini bermasalah dengan proyek lama adalah kuncinya.
(2) RE-BRANDING
Step berikutnya setelah ‘zero condition’ tercapai adalah, re-branding. Lho koq gitu? Bukannya dengan menyelesaikan semua permasalahan sampai ‘zero condition’ sudah cukup? Koq harus pakai ‘re-branding’ lagi? Ok, saya jelaskan begini, ‘zero condition’ adalah untuk menghapus kesalahan masa lalu dengan pihak yang sudah pernah berurusan dengan proyek tersebut. Sedangkan nanti ada calon konsumen atau pihak baru yang akan diolah supaya mau beli di proyek anda. Pihak baru atau calon konsumen ini sangat rentan terhadap image jelek dari satu perumahan, kenapa? Ya iyalah, beli rumah itu mahal booo, dan mereka gak mau cari masalah apalagi kompetitor sedemikian banyaknya. Pilihan rumah yang siap dibeli diluaran sana yang sedemikian banyak inilah yang mengharuskan kita melakukan re-branding. Dengan re-branding kita bisa melakukan brand promise yang baru, harapan-harapan baru yang bisa kita lekatkan ke brand yang baru. Kenapa harus begitu? Ya iyalah, brand lama sudah terbukti gagal mengembangkan perumahan tersebut, terbukti gagal men’deliver’ brand promise mereka ke calon konsumen. Jadi wajar khan kalau re-branding? Konsumen apabila diosodori brand lama pasti akan bertanya, gagal lagi gak? Jangan-jangan gak dibangun juga, jangan-jangan nanti macet lagi, jangan-jangan kontraktornya gak dibayar, jangan-jangan ijinnya gak keluar dan seribu jangan-jangan lainnya…capeeee deh. Nah, dengan adanya re-branding diharapkan semua keraguan calon konsumen akan terhapus karena perumahan ini adalah perumahan baru dengan manajemen baru, kira-kira demikian pesan yang akan disampaikan dengan re-branding ini. Bagaimana? Setuju? Lanjoooot…
(3) IMPROVEMENT and PROVEN
Terus apalagi nih wkkkkkkkkkk. Ok, step terakhir adalah ‘improvement and proven’ atau improvisasi dan pembuktian. Jadi tidak cukup apabila cuma zero condition dan re-branding, hal itu cuma akan menghilangkan permasalahan dan memberi janji saja ke calon konsumen. Tetapi mereka butuh improvisasi dan pembuktian supaya mereka tertarik dan mau beli di proyek kita. Improvisasi adalah berfungsi untuk fight dengan kompetitor dan pembuktian adalah untuk merealisasikan semua janji yang ada di step re-branding. Kenapa harus fight dengan kompetitor? Ya, meskipun sudah re-branding tetap ada sedikit keraguan di hati calon konsumen, dan keraguan itu pasti akan dimanfaatkan oleh kompetitor kita baik langsung atau gak langsung, jadi praktis tidak ada cara lain selain kita harus mampu melakukan improvisasi terhadap kinerja kompetitor. Semisal kompetitor dan proyek lama terkenal lambat mengurus KPR, anda bisa berimprovisasi katakanlah 2 minggu urusan KPR kelar. Atau kualitas bangunan kompetitor dan proyek lama tidak baik, anda bisa meningkatkan supaya lebih baik, atau mungkin kualitas SDM anda, kualitas sales marketing anda tingkatkan dll. Banyak sisi yang bisa diimprove supaya anda lebih baik dari kompetitor. Ok? Dan terakhir adalah proven atau pembuktian, ya betul. Setelah anda re-branding anda harus proven, semisal dengan melakukan progres pembangunan yang cepat, penanganan kopnsumen yang cepat dsb. Intinya keraguan konsumen karena track record lama yang jelek semisal tidak dibangun, perijinan gak ada, hubungan dengan bank jelek dll harus bisa anda buktikan kalau itu adalah masa lalu. Masa sekarang adalah kinerja yang lebih baik dan terbukti dengan progres di lapangan yang memang sesuai dengan harapan calon konsumen.

Selesai….wkkkkk

Sederhana ya? He he..gak terlalu juga sih, kalau diterapkan dilapangan ternyata gak sesederhana tulisan diatas. Makian, hujatan sampai adu otot pasti ada. Belum lagi cibiran dan ketidakpercayaan yang diterima sales marketing saat memasarkan pasti menyakitkan. Berat memang, butuh biaya banyak, waktu yang lama, mental yang kuat dsb. Kalau menilik hal tersebut diatas wajar dong kalau take over itu harus murah. Sehingga semua proses tersebut diatas bisa dilakukan dan masih ada profit. Ya doooong, masa sih udah cape-cape take over, dijalanin, tahu-tahu jeblok gak ada profit…yeeee siapa yang mau. Makanya harus dihitung dengan cermat. Bagaimana cara menghitungnya? Ada caranya…tapi akan saya bahas di lain artikel, dah kepanjangan nih…minum kopi juga dah 3 gelas belum kelar baca ini wkkkkkkk.

Rekan property, bagaimana? Siap take over? Take actioooooon….cut

3 Komentar

Filed under Manajemen

3 responses to “JURUS AMAN TAKE OVER

  1. gondy

    thx bro sharing’y… sangat bermanfaat🙂

  2. mantap bos, langsung action🙂

  3. Mantap Pak, salam kenal, semoga sukses ya dengan bisnisnya🙂
    Asriman.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s