MUKA BREWOK GAK CUKURAN

Siang rekan property, siang ini cuaca masih mendung. Mungkin pertanda siang atau sore bakalan hujan, wah alamat malas lihat proyek nih wkkkkkk. Dasar malas aja, pakai alasan hujan wkkkkkkk

Kadang cuaca emang bikin kita malas untuk melakukan aktivitas, entah saat panas, mendung atau mungkin pas hujan. Bawaannya malas wkkkkkk…manusiawi banget. Apalagi kalau kerjaan kita adalah melihat atau mengawasi proyek, waduuuuh tambah malas, mana di proyek isinya tukang mulu yang notabene cowok semua wkkkkkkk. Gak ada indah-indahnya sama sekali…wkkkkkk. Mending kalau kerjanya jalan ke mall atau meeting, minimal bisa ngecengin sekretaris cakep wkkkkkkkk.

Tapi ingat rekan property, kadangkala kemalasan di proyek bisa berakibat fatal. Salah satunya adalah kasus yang saya temui di proyek salah satu klien saya. Bagaimana ceritanya? Cerita horor atau cerita komedi? Wkkkkkkk. Ok, langsung aja ke Te Ka Pe…

Alkisah pada satu hari, wkkkkkk, kayak cerita dongeng saja, saya diminta datang ke salah satu proyek klien saya. Klien saya mengeluhkan laju penjualan yang dalam 4 bulan terakhir agak tersendat. Padahal sebelumnya cukup bagus dan menorehkan penjualan yang lumayan cepat. Dari 5 cluster mewah dalam perumahan tersebut 1 cluster sudah sold out 6 bulan sebelumnya. Tapi menginjak cluster kedua penjualan seret, padahal sarana Giant playground dan Water Park yang sudah direncanakan dalam tahap pengerjaan. Asumsinya, seharusnya dengan sold out dan penambahan sarana baru adalah bukti perumahan tersebut diminati dan diharapkan mampu mendongkrak penjualan, tapi apa daya, kenyataan di lapangan lain.

Beberapa hari kemudian, di pagi yang dingin setelah penerbangan dari Soetta, saya langsung dijemput di bandara dan tanpa basa-basi langsung diajak ke lokasi proyek. Wah…belum ditawari sarapan sudah disuruh kerja nih wkkkkkk. Dasar penganut ‘time is money’ wkkkkkkk…gak mau rugi. It’s ok-lah…saya juga termasuk penganut aliran tersebut, jadi ok ok saja.

Sepanjang perjalanan ke lokasi dari bandara, saya amati banyak promosi yang dilakukan oleh klen saya, mulai dari billboard, spanduk bahkan kami sempat dibagi leaflet di lampu merah. Wkkkkkkk kami semua ketawa, gak tahu dia, yang dibagi leaflet ini big bos-nya sendiri wkkkkkkk. Secara singkat saya lihat upaya promosinya cukup menonjol dan menarik untuk ukuran kota seperti ini.

Sepanjang jalan juga saya korek informasi dari manager marketing yang kebetulan pegang setir (ngirit juga nih, manager marketing merangkap supir wkkkkk). Dari sekilas pembicaraan saya tangkap kalau team sales-nya cukup banyak dan beberapa sudah cukup berpengalaman di penjualan perumahan. Tapi mereka ada sedikit kendala karena ini adalah perumahan kelas atas yang pertama dibuat di kota tersebut. Maklum sebelumnya sales tersebut biasa jualan perumahan kelas menengah kebawah.

Akhirnya sampailah saya dilokasi proyek tersebut, dan saya lihat lokasinya juga oke. Cukup strategis dan nyaman. Jadi apa sebenernya masalahnya? Waaaah susah juga nih….

Setelah melihat gerbang dan sarana yang sedang dibangun, dan calon-calon lokasi cluster yang lain. Saya menuju ke cluster yang sudah sold out, sudah selesai terbangun semua dan sebagian besar unitnya sudah dihuni. Pas keliling cluster tersebut…alamaaaaaaak…kacau balau. Wah koq kacau balau? Ada apa nih?

Sepanjang perjalanan keliling cluster terlihat banyak sekali renovasi yang dilakukan oleh penghuni cluster, tukang sibuk mengerjakan renovasi rumah, truk mondar mandir bawa material dan yang paling parah, material teronggok di hampir semua jalan lingkungan, pasir, batu bata, semen, genteng, sampai batu split bertebaran di badan jalan. Suasana jadi kelihatan kotor dan kumuh karena ditambah beberapa tanah galian mengotori jalan dan sampah atau puing bekas bongkaran rumah juga berserakan.

Ups…saya lihat muka klien saya dan manager marketingnya saat melihat kondisi tersebut. Kayaknya santai aja? Wkkkkkk…kayak gak ada salahnya wkkkkk.

Langsung saja saya buka diskusi, menurut saya kemungkinan terbesar calon konsumen enggan membeli di cluster yang berikutnya, salah satu faktor paling kuat adalah masalah maintenance yang jelek dari cluster yang sudah jadi. Klien saya melongo sambil bilang ‘Kq bisa?’…ya, saya teruskan bicara, konsumen selalu melihat suasana apa yang akan mereka rasakan atau tercipta saat mereka memutuskan beli rumah. Apabila cluster atau komplek yang sudah jadi dan seharusnya jadi ‘show room’ untuk perumahan anda ternyata tampilannya jelek atau tidak sesuai harapan mereka, jangan harap mereka tertarik untuk membeli unit selanjutnya.

Anda bayangin, cluster yang sudah jadi semua dan dihuni, seharusnya menampilkan kesan sebagai hunian mewah dan asri sesuai harga mahal yang mereka bayarkan. Tetapi disini bukannya hijaunya taman, indahnya bunga, rapinya jalan dan burung berkicau yang mereka dapatkan. Tapi tampilan cluster yang amburadul, jalan susah dilewati karena tumpukan material, sampah puing bangunan berserakan dan jalan kotor karena tanah. Bagaimana calon konsumen akan tertarik? Pasti mereka akan bersumsi, wah kalau saya beli nanti juga lingkungannya akan seperti ini, ogah ah.

Saya terus nyerocos, seharusnya anda sebagai developer menjaga keindahan dan ketertiban cluster anda karena anda membutuhkannya sebagai ‘show room’ untuk cluster anda selanjutnya. Semua renovasi seharusnya diatur supaya rapi, material jangan menumpuk dijalan, sampah secepatnya dibuang dan kalau perlu jalan anda bersihkan dengan dicuci oleh pegawai taman anda supaya bersih dari lumpur dan tanah. Anda punya wewenang itu karena andalah pemilik dan pengelola proyek. Jadi sebenernya proyek anda ini bagus, ibaratnya muka orang, muka anda ganteng kayak Brad Pitt, tapi kalau jambang dan brewok anda biarkan tumbuh merajalela gak beraturan ya sama aja kelihatannya gak ganteng. Muka brewok gak cukuran…ya kelihatan kumuh juga…

Deg, klien saya dan managernya melongo mendengar penjelasan saya. Terus mereka mengangguk-angguk entah karena mengerti atau mengantuk saya gak tahu wkkkkkkk.

Rekan property, setiap konsumen pasti punya harapan atau gambaran seperti apa rumah dan lingkungan yang mereka beli nantinya. Makanya sering ada pertanyaan, Nanti ada taman-nya gak? Nanti ada pagar kelilingnya gak? Nanti ada satpamnya gak? dsb. Jadi tugas anda adalah mewujudkan impian atau harapan tersebut ke titik paling terdekat sesuai promosi anda. Dengan demikian brand-promise yang pernah anda tawarkan saat promosi akan terpenuhi, efeknya, konsumen tidak ragu lagi apabila promise anda tersebut telah terwujud dilapangan.

Jadi entah besar atau kecil proyek anda, adalah tugas anda supaya suasana nyaman tercipta dalam lingkungan perumahan anda, karena itu adalah ‘show room’ untuk modal penjualan anda selanjutnya.

Ngomong-ngomong kenapa anda tidak menertibkan renovasi rumah? Bukannya anda juga sadar renovasi amburadul seperti itu membikin suasana lingkungan tidak nyaman? Apa anda gak pernah tengok proyek sehingga gak tahu kalau proyek dah amburadul seperti ini? tanya saya ke manager marketingnya. “Kami segan pak, ini perumahan mewah pertama di kota ini, kebanyakan pemiliknya pejabat, dan setiap kali ditegur mereka bilang..ini khan sudah milik saya, mau saya bangun jadi peluncur rudal nuklir juga urusan saya…wah malas pak, tiap kali ditegur seperti itu, ya saya juga ketularan malas nengok cluster ini” jawabnya lirih. Ooooo itu toh masalahnya..oke deh saya kasih advis lagi, tapi jangan di artikel ini ya..udah kepanjangan..next time aja wkkkkkk

Jadi sudahkah anda membuat ‘show room’ untuk proyek anda?

Tinggalkan komentar

Filed under Teknik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s