PANGKATNYA TENGJEN

Pagi rekan property, sudah olahraga belum? Saya belum wkkkkk. Pagi-pagi gini, enaknya olahraga sebentar terus minum kopi sambil baca blog saya wkkkkkkk…maknyussssss pokoknya.

Pagi ini saya mau sharing pengalaman teman saya develop perumahan di daerah yang notabene masih jarang perumahan dan teman saya selalu kesulitan untuk membujuk konsumen mau beli. Kenapa? Ya, perumahannya type mewah, sementara target konsumen perumahan rata-rata sudah punya rumah sendiri dan type 21, maksudnya 2 hektar 1 rumah wkkkkkkkkk. Maklum rata-rata mereka adalah bos perkebunan dan pertambangan yang banyak tersebar daerah itu.

Tentu sangat susah mengajak calon konsumen yang terbiasa tinggal di rumah yang besar dengan halaman yang sangat luas untuk pindah ke perumahan yang relatif terbatas baik type rumah maupun luas halaman. Lokasi dong, khan lebih strategis? Maaf, kota ini cukup kecil sehingga kemana-mana relatif dekat dan hampir semua lokasi strategis. Aksesibilitas kalau gitu? Maaf juga, di kota kecil ini hampir tidak pernah ada kemacetan kecuali kalau ada truk tronton terbalik, itupun lebih karena banyak yang menonton wkkkkkk. Fasilitas bagaimana? Gak terlalu menolong karena mereka terbiasa liburan ke luar negeri minimal S’pore atau Malaysia, deretan Waterpark bukan barang baru buat mereka. Pusat niaga? Mereka terbiasa belanja bulanan di Jakarta dan belanja baju atau elektronik di S’pore. Investasi? Mmmmmmm…kayaknya mereka sudah pada punya Apartment di ibu kota dech. Weeeeeh susah juga yaaaa?

Wah, terus bagaimana dong caranya mengajak big bos-big bos itu untuk mau beli rumah di tempat teman saya yang notabene harganya juga lumayan mahal untuk ukuran kota seperti itu. Meskipun harga mahal itu memang wajar karena spesifikasi rumahnya tergolong mewah dan lokasinya di tengah kota. Pusing juga teman saya memikirkannya.

Dari diskusi sana sini, akhirnya didapat satu informasi yang cukup berharga dari salah satu sales-nya. Yaitu ego dari calon konsumen ini rata-rata sangat tinggi. Kalau ada salah satu kolega mereka beli barang atau property di satu kawasan tetentu. Teman-temannya akan berlomba-lomba untuk beli juga, jadi tidak heran saat ada yang beli apartment di ibu kota, tak berapa lama teman-temannya juga ikut berondong-bondong beli apartament juga. ‘Me too’ banget wkkkkkkk.

Cuma itu aja? Terus bagaimana dong membujuk salah satu saja dari mereka untuk pindah? Biar teman-temannya ngikut getoooooo.

Mirip peribahasa ‘bird of a feather flock together’…burung yang berbulu sama akan ngumpul…jadi please cek burung anda masing-masing…bulunya sama gak? Wkkkkkk awas burung yang terbang lho ya wkkkkkkkk. Demikian juga konsumen perumahan, mereka akan suka mengumpul dengan orang yang dianggap sama derajatnya dll. Kira-kira trend seperti ini muncul gak di kota kecil ini? Ternyata sangat kuat, dar analisa konsumen dan informasi sales juga, didapat kesimpulan calon konsumen sangat suka apabila tinggal satu komplek dengan tokoh masyarakat atau pejabat tertentu yang dikenal oelh masyarakat luas. Ada semacam kebanggaan kalau bertetangga dengan mereka. Wkkkkkk mirip-mirip plesetan kalau ditanya pangkatnya apa? Tengjen…tetangga jenderal wkkkkkkk.

Dan memang hal ini terbukti di lapangan, ada satu kawasan rumah tinggal, bukan perumahan, yang lokasinya di tengah kota yang dihuni deretan pejabat atau tokoh masyarakat kota ini. Dan itu sudah jadi semacam kawasan elit yang berharga cukup mahal.

Ok, celah sudah ada, strategi harus disusun. Maka di meeting marketing ditegaskan kalau target pertama adalah bisa membujuk konsumen dari kalangan pejabat dan tokoh masyarakat supaya mau beli dengan berbagai promosi yang menarik, mulai dari diskon, bebas DP dll. Promosi terbatas untuk segelintir konsumen ini bertujuan supaya mereka jadi ‘icon’ perumahan, bukan ‘7 Icons’ lho ya? Wkkkkkkk. Dengan harapan apabila mereka pindah maka ada timbul sedikit euforia dari para calon ‘tengjen’ eh calon konsumen ini wkkkkkk. Dan mereka akan berbondong-bondong membeli rumah di royek teman saya ini.

Ternyata analisa tersebut terbukti. Begitu deretan pejabat mulai beli, dimulai dari kepala PLN dan seterusnya. Maka konsumen big bos pertambangan dan perkebunan mulai antri membeli unit yang relatif mahal tersebut. Laris manis deh perumahan teman saya wkkkkkk.

Pelajaran apa yang bisa diambil rekan property? Kenali calon konsumen anda sebaik mungkin, kadang pendekatan psikologis bisa menggaet calon konsumen dibanding pendekatan teknis semisal bunga bank, DP ringan dll. Karena ada kelompok konsumen tertentu yang hanya bisa diolah secara psikologis bukan teknis. Jadi berpikir lebih luas daripada sekedar teknis. Analisa lapangan dan informasi valid sering membantu memecahkan permasalahan pemasaran.

Jadi masih pengin jadi tengjen? Saya nggak wkkkkkk

Tinggalkan komentar

Filed under Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s