NEMBAK LEWAT TELPON

Pagi-pagi saya sudah dibangunkan oleh telpon teman saya yang mau curhat mengenai proyek perumahannya yang agak seret penjualannya. Sambil masih terkantuk-kantuk saya coba menangkap cerita yang disampaikan, intinya penjualan seret padahal promosi kencang dan lumayan banyak yang merespon.

Semakin lama teman saya bercerita semakin lebar mata saya, kantuk dah hilang, wah ini ada problem baru yang harus dipecahkan. Sambil bersiap-siap untuk ke kantor saya memutuskan untuk janjian ketemu di proyek perumahannya.

Singkat cerita sampailah saya ke proyeknya dan langsung menemui manager marketing yang ada, tanya sana sini, minta buku tamu dsb. Saya amati proyeknya lumayan bagus, bangunannya lumayan rapi, salesnya juga lumayan banyak yang berjaga di kantor. Wah berarti alasan konsumen enggan beli kira-kira apa ya? Dari sisi penampilan dan promosi sudah cukup baik saya rasa.

Teman saya merasa bingung, menurutnya konsumen yang berminat cukup banyak, tetapi yang realisasi membeli sangat sedikit. Sambil menunjukan buku tamu, teman saya memperlihatkan sederetan calon konsumen yang ada. Tapi tunggu dulu, saya agak curiga dengan buku tamu tersebut, karena kolom tanda tangan banyak yang tidak terisi. Saya tanyakan ke teman saya, bener ini daftar tamu yang berkunjung ke lokasi? Jawab teman saya, wah gak tahu nih, sebentar saya panggil manager marketingnya.

Rekan property, ternyata setelah diskusi sedikit dengan manager marketingnya, terungkap bahwa itu bukan daftar tamu yang berkunjung saja, tapi tercampur antara tamu yang berkunjung dan tamu yang menelpon sales atau kantor pemasaran. Ok, saya langsung bersama-sama memilah mana tamu yang berkunjung langsung dan mana yang sekedar terlpon. Alamaaaaak..ternyata tamu yang berkunjung ke lokasi sangat sedikit. Kebanyakan adalah tamu yang menelpon saja.

Saat saya tanya ke sales-sales yang bersangkutan ternyata memang sangat jarang konsumen yang berkunjung ke lokasi. Dan menurut keterangan manager marketingnya, rata-rata sales yang baru dan relatif belum berpengalaman ini memang berusaha melakukan penjualan lewat telpon.

Rekan property, saya jadi ingat teman saya waktu diawal-awal kerja dahulu yang sangat kuper dan kurang percaya diri. Karena gak PD ini maka kalau suka dengan cewek, alih-alih berusaha mendekati malah lebih suka lewat telpon. Jadi pedekate dilakukan lewat telpon sampai nembak cewekpun juga via telpon. Bisa dibayangkan bahwa hal itu gak romantis sama sekali wkkkkkkk. Mending bawa setangkai bunga mawar terus apelin tuh cewe dan nembak, betul gak? Dan bisa ditebak teman saya yang satu itu berkali-kali gagal mendapatkan cewek dengan cara seperti itu.

Pelajaran apa yang bisa diambil rekan property? Mirip dengan nembak cewek, nembak konsumen juga lebih tinggi tingkat keberhasilannya apabila konsumen mau datang ke lokasi dibanding lewat telpon.

Untuk kasus teman saya ini, data menjadi bias karena tidak ada pemisahan konsumen mana yang berkunjung dan konsumen mana yang hanya berminat atau sekedar pengen tahu harga perumahan kita. Jangan-jangan malah yang telpon kompetitor karena pengin tahu program promosi kita. Sehingga seolah-olah banyak konsumen yang berkunjung tetapi sedikit yang beli.

Rekan property, kebanyaan sales pemula selalu berusaha melakukan penjualan lewat telpon. Padahal data menunjukan penjualan lewat telpon lebih banyak gagalnya dibanding berhasilnya. Akan lebih efektif apabila konsumen diajak untuk berkunjung ke lokasi atau kantor pemasaran sehingga lebih bisa dimaksimalkan upaya untuk membujuk konsumen membeli. Jadi hindari melakukan penjualan via telpon.

Pada kenyataannya konsumen akan lebih mudah dibujuk untuk membeli apabila sudah mengetahui lokasi perumahan kita, kualitas bangunan, kualitas desain, suasana perumahan dll dibandingkan kita repot-repot memberikan narasi untuk membujuk konsumen beli lewat telpon.

Jadi pastikan anda bisa membujuk konsumen untuk datang ke lokasi anda.

Tinggalkan komentar

Filed under Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s