BEST SALES ON BUS Part 1

Siang ini saya naik bis dari Depok ke Bekasi, duduk dibangku terdepan (jarang saya duduk dibangku terdepan he he) sambil menenteng boneka beruang gede warna ungu muda. Soal kenapa saya menenteng boneka beruang gede warna ungu muda ntar kita bahas lain waktu ya wkkkkkk.

Nah karena di bis, tentu banyak pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya, maklum namanya aja bis kota yang berisi sampai 80 orang, tentu potensial banget buat jualan. Saya catat ada 6 pedagang asongan mulai dari jual kanebo, casing hape, gunting, lem, buku sampai screen protector. Cukup padat dalam perjalanan yang singkat dan panas ini wkkkkk.

Ada yang sangat menarik perhatian saya, yang selama ini tidak saya ketahui karena saya selalu duduk di bangku selain bangku depan. Yaitu setelah ritual perkenalan produk, disambung dengan membagi produk ke pangkuan masing-masing penumpang, terus berceloteh lagi. Naaaaah…ritual terakhir ini yang sangat menarik menurut saya, begini ceritanya.

Setelah celotehan kedua, si pedagang asongan mendekati penumpang yang berada di baris terdepan, meanwarkan untuk beli yang disambut gelengan kepala penumpang, eh si pedagang cepat-cepat mengambil barang yang ditaruh dipangkuan penumpang, dimasukin tas, mengambil beberapa lembar uang dari sakunya, terus satu lembar sepuluh ribuan diacungkan sambil terus berpromosi supaya penumpang mau beli. Seolah-olah penumpang terdepan jadi beli itu barang dan uangnya dilambaikan oleh pedagang…voila…trik psikologis yang cukup canggih wkkkk.

Selama ini saya selalu tertipu dengan gambaran dari bangku belakang kalau konsumen bangku depan itu beli produk tersebut wkkkk. Ternyata oh ternyata gak beli..cuma trik doang. Terus apa efeknya? Tentu saja penumpang lain akan merasa produk tersebut bagus, buktinya ada yang beli wkkkkk, terus akan  terprofokasi untuk ikutan beli juga. Hebaaaaaaaat…

Rekan property, pelajaran apa yang bisa diambil dari ‘best sales on bus’ ini? Yup, psikologi konsumen ternyata memegang peranan penting dalam penjualan. Konsumen butuh trigger atau pemicu untuk beli. Pemicu ini bisa internal semisal diusir mertua wkkkkkk atau eksternal semisal lihat konsumen lain beli. Ujung-ujungnya konsumen akan tertarik untuk beli. Betul gak?

Jadi sangatlah penting untuk menciptakan pemicu supaya konsumen tertarik membeli. Bahkan kadang saat awal mulai jualan diterapkan ‘seolah-olah’ sudah ada yang beli, sehingga saat ada konsumen asli bisa menjadi pemicu dibanding konsumen melihat siteplan yang kosong melompong gak ada yang nyolek wkkkkk. Efek psikologis sebagai pemicu selalu di explore oleh developer dari dulu sampai sekarang.

Makanya tidak heran kalau deretan plang bertuliskan SOLD selalu dipasang dikavling, atau billboard bertuliskan ‘Tahap pertama SOLD OUT’ dipajang dilokasi strategis. Itu semua adalah upaya untuk memicu konsumen beli dengan memainkan psikologis konsumen. Tentu rekan property bisa menggali banyak cara lain untuk menjadi pemicu konsumen beli. Dengan adanya pemicu atau triger ini diharapkan secara psikologis konsumen akan tertekan oleh ego mereka sendiri dan tertarik untuk beli…weh sedaaaaaap

Nah, kapan-kapan naik bis bareng saya yuk…wkkkkkkk

Tinggalkan komentar

Filed under Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s