BEST SALES ON BUS Part 2

Kisah kali ini masih mengenai sales on bus yang betul-betul menarik perhatian saya. Kali ini TeKaPe-nya adalah Cikopo-Purwakarta, yup di bus jurusan Bekasi-Bandung….ok langsung aja ke TeKaPe

Sekian tahun yang lalu, kebetulan saya mengerjakan proyek di Purwakarta. Kebetulan saat proyek berjalan, saya masih tinggal di Bekasi dan kuliah malam di Jaksel. Mahasiswa malam wkkkkkk awas, bukan wanita malam lho ya..apalagi kupu-kupu malam wkkkkk jaooooooooh…

Nah, dengan jarak yang terbentang jauh tersebut kadang fisik tidak nyaman dan mengharuskan saya menumpang kendaraan umum (wkkkk alasan, padune rak nduwe supir). Saat itu kendaraan yang saya tumpangi adalah Mercy 2 pintu, mesin gahar 3000 cc, ada supirnya, dan temannya banyak wkkkkkkkkkk alias bus kota.

Satu saat saya naik bis dari Bekasi ke Purwakarta, dan pasti duduk di kursi paling tengah wkkkkk. Saat bis keluar dari tol Cikampek, bis melambat sebentar di Cikopo. Saat itulah naik pedagang asongan membawa satu karung besar. Karung itu langsung ditaruh disamping supir. Dan dengan sedikit terengah-engah sambil mengeluarkan sebungkus tas kresek hitam, sang pedagang menjelaskan barang dagangannya..salak. Yup betul salak. Itu lho buah yang ada sisiknya, rasanya manis agak kecut, warna kulitnya coklat, tapi daging buahnya putih, ada bijinya coklat lumayan gede…halah, malah njelasin soal salak. Marketing doooong marketing…ayo kembali ke jalan yang benar wkkkkkk

Sambil mengambil acak beberapa butir salak, dimasukin ke-dua kantong kresek sambil promosi ke konsumen,” ayo ayo bapak-bapak ibu-ibu dibeli salak 12 ribu satu kilo (satu kresek yang kisaran 1 kilo), atau 2 kilo cukup 20 ribu”. Seeeeep…mulai nih. Tiba-tiba sang pedagang memberikan 2 kresek ke penumpang terdepan sambil melambaikan 2 lembar puluhan ribu. Trik lama tapi baru nih wkkkkk seolah-olah penumpang terdepan memutuskan beli.

Betul sekali tebakan saya, setelah harga promosi yang seharusnya 24 ribu berubah jadi 20 ribu untuk 2 kilo, beberapa kantong langsung berpindah ke konsumen, sang pedagang semakin sibuk. Terus sang pedagang berjalan ke penumpang deret kelima, sambil membisikan sesuatu. Terus dia berteriak, ‘ayo kapan lagi, salak tadi 20 ribu 2 kantong, sekarang saya diskon cukup 18 ribu 2 kantong, ayo-ayo kapan lagi’..

Bisa ditebak, langsung saja beberapa kantong berpindah lagi ke tangan konsumen. Dan gilanya, promosi mirip lelang ini terus dilakukan sambil berjalan ke barisan belakang. Mulai dari 20 ribu 2 kantong jadi 18 ribu 2 kantong laku, turun lagi jadi 16 ribu, laku keras, turun lagi jadi 14 ribu, laku keras juga, turun lagi jadi 14 ribu…waaaaah…ini dia saatnya pikir saya.

Melihat harga salak sudah turun dari 24 ribu jadi 14 ribu, dan melihat karung salaknya sudah mengecil karena isinya sudah berpindah ke pangkuan penumpang dan pedagang sudah pegang segepok uang, mulai panik nih saya wkkkkk. Saya merasa ini harga terendah dan pasti ada rasa takut kalau sebentar lagi salaknya habis wkkkkkk. Kapan lagi beli salak 14 ribu dapat 2 kilo. Feeling saya, nih harga udah yang paling murah dah wkkkkk bentar lagi habis nih. Begitu pedagang salak lewat samping saya, langsung saja saya angsurkan uang 14 ribu dan dengan sigap sang pedagang memasukan beberapa puluh butir salak ke kantong plastik dan dengan cepat berpindah ke pangkuan saya he he.

Amaaaan pikir saya, udah dapat salak murah nih wkkkkkk. Lumayan juga buat ngemil nanti dikantor proyek. Pasti ramai nih makan salak bareng-bareng sambil ketawa ketiwi. Tapi….duaaaaar..lamunan saya buyar oleh teriakan ‘ayo penghabisan, penghabisan, tinggal dikit, salak 2 kantong saya diskon lagi jadi 12 ribu’….Ediaaaaaan…ini pedagang bikin keqi aja..ternyata masih bisa lebih murah lagi.

Langsung saja beberapa penumpang mengacungkan uangnya dan segera saja berkantong-kantong salak berpindah tangan. Dan coba tebak, apa kalimat berikutnya yang diucapin oleh pedagang salak tadi. Nih dia ngomong gini…”Terakhir nih…sudah mau habis, daripada saya bawa balik..cape…jual rugi nih 2 kantong cuma 10 ribu…ayo ayo..kapan lagi salak 2 kilo 10 ribu…”….sreeeeeeet. Secepat kilat beberap kantong terakhir berpindah tangan dan senyuman lebar pedagang terlihat jelas.

Sambil membawa karung kosong dan segepok uang, pedagang tersebut berbalik ke arah depan bis. Waaah ini kesempatan nih, dongkol juga setelah tahu kalau penuimpang paling belakang dapat salak 2 kilo cuma 10 ribu. Meskipun 4 ribu harus diperjuangkan juga wkkkkkk. Pas lewat dekat bangku saya, segera saya tarik tangan pedagang salak terus saya berbisik komplain ‘koq saya bayar 14 ribu?’, berbisik aja, malu ama yang udah bayar 20 ribu wkkkkkkkk. Eh jawabannya santai dari sang pedagang ‘tenang aja mas, yang 10 ribu itu salak-nya kecil-kecil koq’ besaran salak punya mas…eh koq tahu salak saya besar? Wkkkkk maksudnya salak yang saya beli, bukan salak warisan turun temurun wkkkkk.

Ternyata oh ternyata, salaknya sudah disetting jualannya bertahap tetapi juga ada tahapan kualitas. Jadi menurut pedagang salak (ini saya ketahui beberapa waktu kemudian) mereka menyusun salak didalam karung bertahap dari yang besar sampai yang kecil-kecil. Nah yang besar dijual 20 ribu dan yang dilapisan bawah karung yang kecil dijual 10 ribu. Terus jualan dilakukan mirip lelang yang memainkan emosi penumpang atau calon konsumen.

Well, rekan property, pelajaran apa yang bisa kita ambil dalam cerita tersebut? Semisal salak-salak adalah type type rumah, maka pedagang tersebut telah berani menjual dengan rentang harga cukup besar tetapi dengan spesifikasi yang berbeda juga. Jadi tidak bisa dikomparasi antara type satu dengan lainnya. Hal ini tentu sangat berguna menjawab protes konsumen yang beli lebih mahal dan sebaliknya.

Jadi rekan property, jangan alergi dengan harga yang naik turun demi mengejar penjualan. Sepanjang terdapat perbedaan yang signifikan semisal spesifikasi bangunan, desain bangunan dll maka tidak perlu ragu menaikan atau bahkan menurunkan harga. Jadi pastikan saat anda akan melakukan perombakan harga baik naik maupun turun, harus ada perubahan signifikan dengan type yang sudah terjual sebelumnya. Hal ini akan mengurangi komplain atau protes konsumen yang sudah beli. Kalau harga naik mungkin konsumen lama akan tersenyum wkkkk lha kalau malah turun, bisa jadi tetap tersenyum tapi senyum kecut wkkkkkk.

Dan yang paling saya suka adalah caranya pedagang salak memainkan emosi penumpang atau konsumen, sehingga satu karung salak bisa laku dalam perjalanan bis Cikopo-Purwakarta yang cuma berkisar 15 menitan. Hebat gak? Nah kalau anda bisa memainkan emosi konsumen bukan tidak mungkin penjualan anda akan laris manis dalam waktu cepat. Gak percaya? Berhubung tulisan ini sudah terlalu panjang nanti saya akan bahas dalam artikel lainnya.

Jadi anda siap memainkan emosi konsumen untuk jualan salak…eh jualan property? Wkkkkkk

Tinggalkan komentar

Filed under Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s